IHSG Pesta Pora, Dua Raksasa Nikel Kok Malah Sengsara?

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Dua saham big cap nikel anjlok hingga batas auto rejection bawah (ARB) 7% di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak pada Rabu (26/4/2023).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham Grup Harita PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) ambles 6,92% ke Rp1.345/saham. Nilai transaksi mencapai Rp354 miliar dan volume perdagangan 261 juta saham.

Ini menjadi koreksi sekaligus ARB pertama kali NCKL sejak melantai (listing) di bursa 12 April lalu. Asal tahu saja, NCKL melakukan penawaran saham perdana (IPO) dengan harga penawaran Rp1.250/saham dan mendapatkan raupan dana segar Rp10 triliun. Kapitalisasi pasar (market cap) NCKL sendiri mencapai Rp84,87 triliun.

Sementara, saham anak usaha Merdeka Copper (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), juga turun tajam hingga minus 6,78% ke Rp825/saham.

MBMA sendiri listing pada 18 April atau sehari sebelum libur Idulfitri (19-25 April) dengan harga penawaran Rp795/saham. Dalam gelaran IPO, MBMA meraup dana Rp8,74 triliun.

Adapun market cap MBMA mencapai Rp89,10 triliun, terbesar di antara pemain nikel lainnya di bursa.

Selain NKCL dan MBMA, sejumlah saham nikel memerah, termasuk TINS minus 0,97%, NICL -0,71%, dan MDKA -0,25%.

Saham nikel yang terpantau melemah terjadi di tengah melandainya harga nikel pada perdagangan Selasa kemarin. Harga nikel berdasarkan London Metal Exchange (LME) berakhir merosot 5,31% dan menetap di US$ 23.341 per ton.

Selain itu, ada kabar kurang menggembirakan, di mana Amerika Serikat (AS) cenderung tidak berlaku adil terhadap hasil nikel Indonesia yang tidak mendapatkan kredit pajak dalam pembuatan baterai kendaraan listrik di AS melalui Undang-undang Inflation Reduction Rate (IRA).

Melalui undang-undang baru IRA, AS diketahui bakal memberikan kredit pajak atas pembelian mobil listrik. Undang-undang ini mencakup US$ 370 miliar dalam subsidi untuk teknologi energi bersih.

Namun demikian, insentif ini dikhawatirkan tidak berlaku atas mobil listrik dengan baterai yang mengandung komponen nikel dari Indonesia. Alasannya, Indonesia belum memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS.

Hal ini membuat pengusaha nikel melalui Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memberikan pesan menohok kepada AS atas sikapnya yang tidak berlaku adil terhadap hasil nikel Indonesia.

Meski begitu, APNI meyakini bahwa Indonesia tidak akan dirugikan secara signifikan atas ‘pengucilan’ (AS) terhadap nikel Indonesia itu. Jika Indonesia tetap dikucilkan, maka Indonesia bisa mencari pangsa pasar lain.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan pihaknya akan terbang ke AS dan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan.

Bila nantinya AS tidak bersepakat dengan RI, maka menurutnya yang akan rugi adalah pihak AS itu sendiri.

“Kita akan bicara (dengan AS), karena kalau tidak, mereka akan rugi juga dan green energy yang kita punya untuk proses prekursor katoda itu mereka nggak dapat dari Indonesia karena kita nggak punya Free Trade Agreement dengan mereka,” tegasnya saat konferensi pers di gedung Kemenko Marves, Senin (10/4/2023).

IHSG sendiri melonjak 1,29% menembus level psikologis 6.900, tepatnya 6.910 pada penutupan perdagangan Rabu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*