Beruntung IHSG Gak Ikutan, Bursa Asia Ditutup Lesu

Investors look at computer screens showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China September 7, 2018. REUTERS/Aly Song

Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup melemah pada perdagangan Rabu (26/4/2023), di mana kekhawatiran terkait krisis perbankan global kembali muncul dan membebani pasar pada hari ini.

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,71% ke posisi 28.416,5, Shanghai Composite China turun tipis 0,02% ke 3.264,1, Straits Times Singapura juga turun tipis 0,08% ke 3.293,91, ASX 200 Australia terkoreksi tipis 0,08% ke 7.316,3, dan KOSPI Korea Selatan terpangkas 0,17% menjadi 2.484,83

Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 0,71% ke 19.757,27 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melesat 1,29% menjadi 6.910,15.

Dari Australia, inflasinya pada periode kuartal I-2023 turun dari level tertinggi selama 33 tahun. Penyebabnya yakni biaya hidup mengalami kenaikan terkecil dalam lebih dari satu tahun dan inflasi inti turun di bawah perkiraan.

Berdasarkan data dari Biro Statistik Australia, menunjukkan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 1,4% pada kuartal I-2023, tepat di atas perkiraan pasar dengan inflasi 1,3% tetapi kenaikan terkecil sejak akhir 2021.

Laju tahunan melambat menjadi 7,0%, dari sebelumnya 7,8% pada kuartal IV-2022, menunjukkan inflasi akhirnya memuncak setelah dua tahun percepatan biaya yang cepat.

Untuk Maret saja, CPI naik 6,3% tahun ini, turun dari 6,8% di bulan Februari. Yang terpenting, ukuran inflasi inti yang diawasi ketat, naik 1,2% pada kuartal Maret, mendorong laju tahunan turun menjadi 6,6% dan di bawah perkiraan 6,7%.

Namun, inflasi inti tetap jauh di atas kisaran target bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) sebesar 2-3% dan pembuat kebijakan khawatir hal itu dapat memicu spiral upah harga tanpa pengetatan lebih lanjut.

Dengan data tersebut, investor bereaksi dengan memperpanjang peluang RBA melanjutkan kenaikan suku bunga pada pertemuan 2 Mei, setelah berhenti pada April setelah kenaikan 10 kali berturut-turut.

Di lain sisi, koreksinya bursa Asia-Pasifik terjadi karena investor khawatir bahwa sentimen krisis perbankan global belum akan berakhir.

Hal ini terjadi setelah salah satu perusahaan perbankan di AS yang sempat menjadi ‘korban’ krisis yakni First Republic Bank, setelah perusahaan melaporkan jumlah dana pihak ketiga mereka turun 40% atau US$ 104,5 miliar atau sekitar Rp1.550 triliun pada kuartal I-2023. Saham First Republic Bank pun ambruk lebih dari 49% pada akhir sesi perdagangan kemarin.

Bloomberg juga melaporkan perusahaan tengah mencoba menyeimbangkan neraca keuangan mereka, termasuk dengan menjual sekuritas dan loan senilai US$ 100 miliar.

Kesehatan First Republic Bank terus menjadi sorotan karena bank tersebut rawan kolaps seperti yang dialami pada Silicon Valley Bank dan Signature Bank.

Di lain sisi, periode blackout menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 2-3 Mei mendatang juga ikut membuat pasar cenderung wait and see.

Di tengah periode blackout jelang rapat FOMC, beberapa data ekonomi di AS akan dirilis pekan ini. Pada Kamis pekan ini, AS akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2023 serta klaim pengangguran.

Setelah tumbuh 2,9% pada kuartal IV-2022, ekonomi AS diperkirakan akan melandai atau bahkan terkontraksi pada kuartal I-2023 akibat kenaikan suku bunga.

Sementara itu, klaim pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 280.000 pada pekan yang berakhir pada 22 April, dari 245.000 pada pekan sebelumnya.

Pada Jumat, AS juga akan merilis data pengeluaran individu konsumen untuk Maret serta indeks kepercayaan konsumen April.

Dua data ini sangat penting bagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam mempertimbangkan kebijakan moneternya pada pekan depan.

Sejauh ini, pasar memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp).

Berdasarkan survei Fedwatch menunjukkan pasar kini bertaruh 81,3% jika The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bp). Sedangkan sisanya yakni 18,7% bertaruh The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*